Search This Blog

Friday, July 31, 2020

MAKNA QURBAN MASA PANDEMI CORONA COVID 19

Hari Raya Idul Adha 1441 H / 31 Juli 2020
By : Kharil Anwar

Assalamu Alaikum Wr.Wb.

Hari ini, di seluruh antero dunia, seluruh kaum muslimin merayakan hari besar umat Islam yakni Hari Raya Idhul Adha, Hari di mana hadirnya sosok Nabi Ibrahim dan Ismail sebagai tauladan utama dalam menghadikan konsep qurban yang sesungguhnya. Sebagaimana qurban itu sendiri yang berarti “dekat”, saat kita tengah merayakan idhul adha / qurban  di tengah kondisi yang tidak biasa. Di mana inilah yang sebenarnya memacu adrenalin takwa kita menjadi apa yang dibahasakan al-Qur’an menjadi hamba yang haqqu tuqatih suatu kondisi di mana akan lebih terasa dampak kekurangan itu di saat keterbatasan kita telah membatasi kemampuan maksimal kita mengumpulkan pundi-pundi finansial kita, tapi tidak menghalangi kita untuk mengagungkan asma Allah.

Kendati cobaan ini telah begitu dalam merasuki tatanan kehidupan kita baik dalam konteks keluarga, social, ekonomi dan politik. Maka di sinilah makna sebenarnya Qurban yang Allah kehendaki. Kehidupan Ibrahim dan anaknya, di mana Ibrahim melepas segala hal-hal yang melekat dari dirinya seperti harta, dunia dan jabatan, dilepas demi memenuhi kehendak sang ilahi. Sepeduli apapun keadaanya dan sekuat apapun keadaan kita, jika Allah menghendaki kita untuk melecutkan semua itu maka kita harus pasrah dan melepas kemelaratan dalam diri kita.

Rasulullah Saw, 15 abad yang telah silam, telah sukses besar dalam menjadikan Islam ini membumi ke seluruh antero dunia. Dengan ucapa takbir Allahu Akbar, telah menjadi senjata kaum muslimin yang sangat ampuh untuk menggerakkan semangat jihad yang luar biasa bagi kaum muslmin dan terus mengagungkan Asma Allah, mensucikan mereka dari kotoran-kotoran yang merusak nilai-nilai ketauhidan, kesyirikan, penghambaan sebagai makhluk mulia, dan melepaskan diri dari ketergantungan dan keterikatan dari materi, harta, tahta dan keturunan.

Rasulullah telah sukses besar dalam menghidupkan islam ke seluruh antero dunia. Dalam masa perjuangan, berbagai kerinduan pernah singgah di hati Nabi-Nya yang mulia. Kerinduan yang dialami setelah ditinggal paman beliau Abu Thalin, kerinduan setelah ditinggal istri tercinta khadijah dan masih banyak lagi kerinduan beliau. Tapi, ada satu kerinduan di atas dari segala kerinduan yang lainnya yakni kerinduan setelah merasa ditinggalkan oleh kekasih sejati beliau, Allah Rabbul Alamin.

Meski saat pertama menerima wahyu di goa hira, jiwa bahkan bergetar, bercucuran keringat dan beliau meminta istri beliau khadijah menyelimuti, tapi diam-diam beliau merasakan ada energy dari lanngit dalam untaian wahyu yang terus masuk dalam hati beliau, Iqra bismirabbika, dan menyusul lagi beberapa ayat dari surat al-Mudatsir. Hanya berawal dari beberapa ayat tapi Allahu Akbar mampu jadi teladan seluruh alam semesta sebagaimana cahaya yang dimudahkan dalam meyinari kegelapan.

“Bacalah dengan nama Rabbmu yang telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah ! Rabb mu itu sangat mulia yang mengajarkan dengan pena, mengajar manusia segala apa mereka tidak tahu. Ilmu adalah buah lezat dari membaca. Melalui ilmu yang diperoleh atas dasar tafaqqur fiddin aan memunculkan generasi “Arrasihuna fil ilmi”. Dan dengan ilmu, saatnya seseorang sampai kepada Al-Quran, Warraskhuna fil ilmi yakuluna amanna bih, kullun min ‘indi rabbina wama yadzakkaru illa ulul albab”.Orang-orang yang ilmunya mendalam, tidak ada yang dapat mengambil pembelajaran kecuali orang-orang yang berakal.

Ini adalah hari Qurban, Setelah kita melaksanakannya maka kita di ajak untuk merenungi fenomena hikmah dalam cobaan ini. Sebagaimana kita sebagai manusia tak punya daya untuk menghalau bala bencana sebagai ujian dari Allah kepada kita. Meski kita harus berada dalam dekapan keterpurukan, terbelenggu dan terisolir.

Gelombang kesakitan yang menerpa umat islam diberbagai Negara termasuk Indonesia akhir-akhir ini adalah bagian dari liku-liku perjalanan luas yang harus diterima dengan penuh kesabara yang tinggi, lapang dada, dan disikapi secara cerdas dan bijaksana. Umat islam tak perlu kehilangan arah, apalagi terbawa arus tak menentu karena khasanah keteladanan dari Rasulullah Saw yang terbentang luas menjadi pedoman yang tak pernah hilang dalam kehidupan umat Islam sampai kapanpun. Tugas penting para pemimpin umat Islam saat ini adalah merawat umat Islam yang kebingungan, berikan uluran tangan, arahan yang tepat dan tebarkan senyum optimis.

Mari kita tilawah ulang ayat-ayat Allah, al-Qur’an sebagai pedoman, tingkatkan kepedulian terhadap anak yatim, orang yang terlantar. Kehilangan kepedulian, kekeringan dana, ketahuilah bahwa Allah akan selalu menjaga kita, selalu optimis terhadap kehidupan, dalam setiap kesulitan.

‘Tuhan telah meninggalkan engkau dan membencimu’, sebuah kalimat yang pernah menyakitkan Nabi Saw, kini dalam keterbatasan dalam menanggulangi wabah. Kata itu kembali dihamburkan ke tengah-tengah ummat ini tapi tenanglah, umat ini telah mendapatkan kekuatan dari wahyu dalam QS adduha. Sejak lebih dari 14 abad silam, ma waddaaka rabbuka wama kala, Tuhanmu tidak akan pernah meninggalkan engkau dan tak akan pernah membencimu. Semangat juang Nabi ke gerbang kemenangan.

Di hari raya idul adha, hari raya qurban ini, mari kita patenkan dalam diri kita, di dalam hati kita, semangat ibadah, menegakkan iman dan taqwa dengan berlandaskan pedoman al-Qur’an dan hadis Nabi Saw. Kita kuatkan dengan untaian doa kepada kehadirat Allah yang pernah diajarkan oleh Nabi Saw” Allahumma inna naudsubika min jahdil bala, wadarakisyaka wa su’il Qadha wasamatatil A’da’ . Ya Allah sungguh kami berharapa kepada-Mu dari dahsyatnya bencana, derasnya kesengsaraan, buruknya takdir, dan girangnya musuh melihat derita kami. Rabbanagfirlana Zunubana wakaffir anna sayyiatina wataffana ma’al abrar.

Wassalam

Thursday, July 30, 2020

MENGENALI POTENSI DIRI

"MENGENALI POTENSI DIRI DAN SUBTANSI KEPASRAHAN”
by ; Khairil Anwar



Belajar dari kisah hidup, ada banyak potensi yang kita miliki yang Allah berikan kepada kita, baik potensi yang kita sadari maupun potensi yang tidak kita sadari. Sebuah bentuk rasa yang hadir dalam diri kita kemudian dialirkan ke dalam sebuah wadah yaitu rasa syukur kita terhadap potensi-potensi yang Tuhan hadirkan dalam Makro kosmos kehidupan. Dalam kehidupan sosial ada banyak di sekitar kita yang sukses dalam menggapai impiannya, hidup berkecukupan, hidup dalam kemewahan dari yang dulunya tidak punya apapun tapi karena dia memanfaatkan potensi yang dia miliki didukung momentum yang tepat, dan pada akhirnya passionnya pun tersalurkan dan  membuahkan banyak kesuksesan. Sekali lagi, ini tentang rasa yang kita miliki, tentang bagai bagaimana kita memanfaatkan potensi yang kita miliki sehingga yang tercipta adalah kebahagiaan dan harmonisasi hidup seperti yang memang menjadi cita cita dan tujuan hidup di antara kita. Dengan semua itu, kita akan melihat bagaimana sikap di antara kita yang diberikan peluang untuk sukses dalam memanfaatkan potensi yang dimiliki.

Semua akan kembali pada individu itu sendiri, apakah potensi itu akan bersinergi dengan dirinya dengan dimensi ketaatan atau malah potensi yang dimilikinya akan bermuara pada pembangkangan terhadap sifat sifa ilahiah yang tentu selalu datang berupa bisikan kebaikan dalam diri sesorang. ketika kita berbicara pada ketaatan tentu kita sebangai makhluk yang penuh dengan kelemahan dalam satu konteks ketuhanan,kita adalah hamba yang tentu setiap saat harus terus pasrah dan ridho akan ketetapan Allah terhadap apapun yang tejadi pada diri kita,termasuk penyakit dan kesempitan hidup.

Akan tetapi, seorang muslim yang kuat adalah mereka yang melihat dunia dalam sisi yang lain, sehingga kata Rasulullah ‘sungguh luarbiasa kehidupan seorang mukmin itu ketika dia senantiasa dalam kondisi yang positif setiap ada ujian dan ada kebahagiaan baginya, dia selalu sabar dan bersyukur, dalam kehidupan saat ini di mana dunia sedang mengalami kesakitan secara massal karena hadirnya virus yang kita sebut dengan covid 19, serta membuat penduduk dunia panik dalam merespon penyakit tersebut.

ARTIKEL TERKAIT : Covid-19 dan Tantangan Dunia Pendidikan Berbasis Karakter

Ada yang sibuk mencari penawarnya adapula yang sibuk menghindar dari penyakit tersebut, penyakit ini secara fisik berdampak pada manusia sehingga semua dunia menjadi panik, karena berdampak pada kondisi keberadaan manusia dimuka bumi ini, ini bak perang, tapi dunia perang melawan virus yang tak kasat mata ini tapi dampaknya mampu menyaingi military war seperti yang terjadi pada perang dunia, jika perang para serdadu, perang antar Negara terjadi maka kota dan pertahanan terdampak menjadi porak, tapi perang melawan virus ini nampak secara kasat mata ekosistem kehidupan di sekitar kita tak terganggu tapi kenyataannya setiap detik, setiap menit para korban berguguran bahkan sejumlah Negara tingkat kematiannya sudah berada diambang kematian bak perang secara militer, sehingga wajar jika kemudian dunia mengambil sikap untuk menutup akses yang berpotensi jebolnya virusnya ke wilayah mereka secara massiv.

Mungkin inilah salah satu bentuk model perang abad Ini perang abad 21 yang Nampak disaksikan hari ini, terlepas dari spekulasi para ilmuan, para politisi ataupun para pengusaha yang bisa jadi, model perang seperti inipun belum terlalu serius difahami dalam khazanah keilmuan manusia modern, karena terbukti virus ini tak mampu dikalahkan dengan suatu peluru sains tercanggihpun pada saat ini.

Negara berperang melawan virus ini tanpa senjata dan tanpa alat canggih, perlengkapan perang dan super canggih yang dimiliki dunia. Inilah awal dari sikap sang pribadi yang harus melihat bsisi lain dari apapun yang hadir dan muncul dihadapannya semua sudah bentuk dari sesutu yang harus dihadapi dengan pribadi yang tangguh dan elegan, kita tercipta sebagai makhluk yang segala sesuatunya harus menerima apa yang akan datang dan apa yang akan pergi, kita tak dikarunia sayap untuk sesekali bisa terbang melesat meninggalkan hal hal yang kita tidak inginkan dilingkungan kita, kita di desain untuk menghadapi semua apa yang terjadi tentu dengan kehebatan diri kita, karena sejatinya kita di ciptakan Tuhan di muka bumi ini sebagai penguasa tertinggi dari makhluk makhluk bumi lainnya.

Oleh karenanya itu, kita dinobatkan sebagai khalifah atau pemimpin di bumi ini,desain diri kita adalah manifestasi dari sang pencipta alam semesta ini. Seperti halnya alam semesta yang memiliki mekanisme yang kompleks di alam jagad raya ini. Semua saling terhubung dengan hadirnya pelanet dan tata surya semua menjadi suatu kesatuan dalam satu energi sehingga alam jagad raya ini disebut dengan makro kosmos sedangkan kita sebagai manusia adalah mikro kosmos, kekuatan kekuatan dan kelebihan itulah maka manusia mempunya daya kekuatan yang memonopoli kehidupan di bumi, karena manusia dilengkapi dengan kemampuan akal fikiran yang membedakannya dengan makhluk makhluk ciptaan Tuhan yang lain.

Ketika kita berbicara tentang potensi dan kepasrahan maka kita berbicara tentang energy diri atau pancara interpersonal dalam diri kita, apa yang terjadi di kehidupan kita adalah hasil dari rasa yang kita munculkan dalam realitas kita, karena seperti kita tau bahwa konsep dari dari alam semesta ini adalah terdiri dari sebuah energi dan hukum energi itu sendiri adalah kekekalan.

Wassalam

Saturday, July 4, 2020

COVID 19 DAN NUANSA RAMADHAN

COVID 19 DAN NUANSA RAMADHAN
by ; Khairil Anwar


          Setiap orang dan setiap insan dalam hidup ini mempunyai nuansa rasa dalam diri mereka masing masing, rasa yang mungkin hanya dia yang bisa membayangkannya ini tentang sebuah memori yang memang ditananamkan dalam diri manusia sejak awal penciptaannya, sehingga dengan kemampuan manusia yang diberikan kelebihan dari makhluk yang lainnya maka dengan medah dia menguasai apa yang ada disekitarnya, inilah yang penting dalam menciptakan nuansa berbeda dalam diri masing-masing manusia, ada orang yang mampu memutar kembali memorinya pada masa lalu sehingga tervisualisasikan masa-masa di mana masa lalu itu terjadi. Entah pada saat ia anak atau pada saat momen tertentu yang menciptakan perasaan haru, bahagia atau mungkin kesedihan.

Ramadhan kali ini tentu kita sebagai muslim menghadirkan ragam rasa kita yang berangkat dari aktif nya memori dalam otak dan fikiran kita sehingga yang terjadi adalah visualisasi tentang apa yang kita rasa baik hari ini ataupun apa yang yang kita rasa pada ,masa lalu dan kemudian system receptor dalam otak kita akan menganalisa dan membandingkan yang bermuara pada apakah sensasi ramadhan yang kita rasakan pada ramadahn kali ini sama atau kah berbeda, apakan vibrasi yang dimunculkan dalam tentunya energy dalam diri kita sama dengan vibrasi atau energy yanmg muncul dan kita rasakan pada ramadhan ramadhan sebelumnya.

Mari kita merenung sejenak dalam sisi energy ramadhan kali ini, ini adalah pengalaman batin dari penulis tentang rasa yang berangkat dari kontemplasi jika yang tentu melibatkan memori sebagai system sensori dalam otak, kemudian memunculkan energy yang kemudian memberikan makna yang jelas lewat rasa dari penulis rasakan. Baiklah, ramadhan, kita bicara tentang rasa dari suasana karena sejatinya ramadhan dalam konteks bulan tetaplah akan datang pada kita pada bentuki fisik tapi kita berbicara ramadhan dalam bentuk rasa karena ini yang penting, kenapa pada saat kita kecil setiap ramadhan tiba kita ingat hal hal yang khas dan terkadang kita tersenyum sendiri mengingatnya keusilan dan kenakalan kita bermain hingga lupa pulang. Kadang membuat jengkel sang ibu, tapi suasana ramadhan itu semua amazing, emua enjoyable semua riang. Pada saat kita kecil dan kanak kanak, kita riang sekali bermain,seolah rangkaian bulan ramadhan dari pagi sampai malam menjadi kehidupan yang sangat menyenangkan kita larut dalam bermain bersama anak anak yang lain.

        Ini bisa berarti ramadhan dalam alkisah kita waktu kecil adalah ramadhan yang membahagiakan. Kita sejenak memplashback, mengulang kembali memori kita pada masa lalu dalam momentum ramadhan. Namun, tentu setiap orang mempunyai pengalaman rohani yang berbeda ketika memaknai ramadhan dalam konteks energy rasa, masyarakat desa tentunya berbeda dengan masyarakat perkotaan dalam menerjemahkan nuansa hati mereka pada momentum ramadhan. Begitu kaum miskin dan kaum kaya, kaum dhuafa dan anak yatim tentu mereka punya nuansa berbeda dengan kebanyakan kita dalam merasakan sensasi ramadhan.

         Sekali lagi kita berbicara tentang rasa, kita cenderung melihat sesuatu pada perspektif kita apa yang kita lihat apa yang kita rasa adalah sesuatu yang tampak nyata dalam rasa dan indra kita, sehingga yang muncul sensasi itu kemudian berkembang lewat sikap kita dalam interaksi kita dengan orang lain. Namun, lagi dan lagi, persepektif itu nisbi sifatnya hanya pada rasa individu. Seperti kita mempunyai pengalaman yang berbeda tentang bulan ramadhan.

          Saya pribadi, setiap menjalani ramadhan dalam perantauan tentu yang teringat adalah saat-saat bersama keluarga dikampung halaman; saat buka dan sahur menikmati masakan ibu yang khas dari pulau terpencil. Yang saya rasa tentu perasaan rindu yang hebat, ingin kembali ke masa itu, bermain di pantau ngabuburit bersama teman teman sesekali ke surau sekedar ngantri untuk mendapatkan jatah 1 porsi nasi ayam lengkap sebagai takjil dan setelah dapat pulanglah ke rumah membawa seporsi nasi ayam itu sebagai pelengkap dari menu buka puasa kami waktu itu. Setelah itu kami bermain lilin di malam hari sesekali petasan dan kembang api, jika ingat itu ada perasaan sesak dan rindu yang hebat, ingin rasa seketika ada di sana, di masa lalu itu, tapi. Inilah kehidupan setiap detiknya adalah sangat berharga karena ia takkan kembali lagi begitu kata warrant fuffet yang pengusaha terkenal.

Itulah yang saya rasakan setiap kali ramadhan itu datang, tentu seperti yang saya katakan bahwa ramadhan datang berwujud dalam dua sisi yang pertama sisi fisi seperti bulan-bulan yang lain, dia adalah bulan yang sesuai hukum yang Allah tentukan tentu dia akan datang kepada kita. Entah di antara kita dalam keadaan muda, tua, sakit, sehat atau telah tiada bulan ramadhan tetap datang kepada kita dalam hitungan bulan hijriah,kemudian dalam bentuk yang lain yaitu ramadhan dalam bentuk rasa dan sensasi, inilah yang diirindukan oleh setiap ummat muslim. Mereka rindu ramadhan karena mereka menyambut dengan rasa, sehingga yang muncul kemudian haru biru dengan ramadhan, ada yang menangis terharu, ada jauh sebelumnya sudah mempersiapkan diri dalam menyambut ramadhan yaitu dengan membiasan puasa senin-kamis dan membiasakan tilawah Alqur’an sehingga pada saat bulan ramadhan tiba mereka dengan suka ria membaca dan menghatamkan Alqur’an dan ada bnayak macam cara ummat islam mengekpresikan rindu mereka dengan Ramadhan.

          Kini Ramadhan telah berada di tengah tengah kita dengan wujud yang sama sebagai salah satu bulan dalam hitungan miladiyah. Namun, datang dalam sensasi yang berbeda dari tahun tahun sebelumnya bahkan mungkin sepanjang tahun selama kita hidup. Sejak mewabahnya covid 19 di dunia pada umumnya dan di Indonesia pada khususnya, sontak wajah wajah yang rindu itu berubah menjadi sesuatu yang mungkin sulit untuk menafsirkannya satu persatu dari wajah kaum muslimin yang tentu sejatinya memang selalu menunggu bulan ramadhan sebagai bulan spesial dari Allah untuk ummat ini.

BACA JUGA : Covid 19 dan Tantangan Dunia Pendidikan Berbasis Karakter


          Namun ini berbeda, bulan ramadhan ini mungkin di antara kita ada yang menangis sejadi jadinya, menangis karena mereka tak bisa lagi datang ke mesjid untuk tarwih berjamaah, tadarrus, iktikaf, bahkan tak ada lagi nuansa interaksi sosial masyarakat relegius dalam bentuk buka puasa bersama dan tradisi ummat muslim Indonesia lainnya pada bulan ramadhan. Semua seketika terhenti, semua larut dalam tafakkur dengan rasa yang berbeda, jiwa yang rindu masjid, jiwa yang rindu memakmurkan mesjid, jiwa yang rindu tilawah Alqur’an di mesjid dan jiwa yang rindu kumpul bercengkrama dengan saudara muslimnya. Kali ini tak ada lgi semua harus kembali pada kesunyian, seperti sunyi dalam pengasingan, dan seperti sunyinya di dalam goa. Ini bukan karena kebetulan, inipun bukan lagi scenario manusia, ini adalah scenario Allah, karena Allah telah menegaskan dalam Alqu’an bahwa sebaik apapun sekenario yang manusia buat secanggih apapun manusia membuat scenario pada akhirnya sekenario Allah yang terjadi.

          Poin yang paling penting dari semua ketidak berdayaan kita, dari tangis rindu kita pada ramadhan dalam wajah yang berbeda. Rindu kita yang tampaknya tidak menjadi wujud seperti wujud yang kita hrap tapi inilah cara Allah, kita seolah selalu digiring untuk menarik sejuta hikmah dari setiap detik ujian yang Allah hadapkan pada kita. Poin yang pertama, tetaplah kita pada jalan Allah, jika kita selalu pada jlan Allah hati kita akan bijak melihat dengan takaran hati yang benar tentang musibah ini. Pemerintah dan para ulama pun sudah bekerja dan akhirnya melahirkan sebuah solusi mungkin bukanlah solusi yang terbaik yang pernah ada tapi sebuah bentuk keputusan atau langkah yang mungkin inilah yang cocok buat kita pada saat ini. Seperti mana dalam kaedah fiqih dinyatakan’ Dar’ul mafasid wa jalbul masalih’ menolak kemudaratan lebih diutamakan dari pada mencari maslahat, artinya dalam kaedah fikih ditnyatakan’ idza gulibatil halau wal haraqmu gulibatil haram’ apabila bercampur yang halal dan haram di dalamnya maka yang dimenangkan oleh yang haram.

          Dalam kasus covid 19 dan nuansa ramadhan 1441 H, tentu kita sejatinya ingin menyemarakkan ramadhan dengan cara dan tradisi kita khususnya muslim di Indonesia. namun covid 19 mempunyai dampak yang jauh lebih mematikan dari kasus-kasus yang terjadi saat ini. Wabah ini sifatnya menular dari manusia ke manusia dan virus ini semakin aktif penyebarannya ketika pada suatu kerumunan. Inilah yang menjadi esensi kenapa kita dihimbau untuk bekerja di rumah, beraktifitas di rumah dan beribadah di rumah, untuk menghentikan mata rantai dari virus covid 19 ini.

Allahua’lam
Wassalam

Wednesday, July 1, 2020

Power of Word - RAHASIA DIBALIK UCAPAN

By. Khairil Anwar

"Jangan ucapkan apa yang anda tak inginkan terjadi - tapi ucapkanlah apa yang ingin terjadi dalam hidup anda”

          Begitu kuatnya sebuah kata kata dalam kehidupan kita sehingga ia menjadi sesuatu yang 2 di sisi kehidupan kita. Bisa menjadi pemantik atau penyemangat, menciptakan sebuah energy yang luar biasa dalam kehidupan seseorang namun pada satu sisi kata-kata akan menjadi sesuatu yang justru akan membuat kondisi seseorang berada dalam kondisi yang terkungkung dalam penderitaan yang panjang.

          Dalam tulisan ini kita akan membahas terlepas dari kata-kata apa yang akan kita ucapkan dan kita akan keluarkan dalam alam realitas kita. Tapi tentang substansi dari sikap atau tanggung jawab kita tentang kata kata yang akan kita keluarkan, karena semua yang terkait dengan kata-kata yang kita ucapkan mempunyai keterikatan mutlak dengan perasaan kita saat kita mengeluarkan sebuah kata-kata, karena alam realitas tak melihat apakah kata-kata itu mengandung hal-hal yang bersifat ilusi atau fakta, sehingga banyak para ahli psikologi lebih serius dalam mengkaji sikap dari seseorang hubungannya dengan kualitas kata-kata yang diucapkan.

Nah kata kata adalah energi yang kita pancarkan ke alam semesta, sehingga sering kita melihat sesuatu yang di luar nalar apabila seseorang mengucapkan kata-kata yang negative dan dilakukan dengan emosi maka biasa kita melihat apa yang terjadi. Sehingga sering kita saksikan fakta bahwa ada seorang ibu yang karena jengkelnya kepada anaknya maka seorang ibu itu mengatakan ‘saya doakan jika kamu keluar, kamu akan dapat bahaya. Nah terkadang apa yang terjadi sesuai dengan apa yang katakana oleh seorang ibu dan ternyata benar anaknya mengalami kecelakaan. Seperti inilah sering kita lihat kejadian yang serupa di kehidupan dan lingkungan kita.sekalilagi ini tentang rasa yang muncul berupa emosi.


Rasamu adalah Doamu

          Doa adalah proses ritual tertentu, apakah pernah terbetik di hati kita bahwa kita sudah melakukan ritual doa segala macam tapi hasilnya hanya begitu saja. semua kita pernah merasakannya, ada pola yang sama dari banyak orang  tentang doa, tapi kita mencoba melihat dari sudut pandang yang berbeda dari doa, sebenar-benarnya doa bukan dari kata-kata kita, ada bedanya dengan ritual doa dengan membaca doa itu berbeda, seperti bernyanyi dengan membaca teks lagu itu berbeda. Doa yang yang sesungguhnya ada di perasaan atau di feeling. Kalau doanya orang bisu saja dikabulkan, doanya itu mengindikasikan bahwa doa itu bukan di mulut kita, tapi itu letaknya pada perasaan.

Seperti halnya pepohonan yang disiram dengan perasaan maka tumbuhan itu tumbuhnya baik, pohon saja ketika di rawat dengan perasaan maka pohon akan meresponnya dengan pola rasa yang kita sampaikan,begitu juga hubungannya dengan interaksi kita dengan orang lain.

        Perasaan adalah doa yang sesungguhnya, seperti kita naik motor dengan perasaan yang baik, feel good, ketika ada pemeriksaan polisi maka anda santai, padahal anda baru menyadari bahwa baru saja kelengkapan kendaraan tidak anda bawa. Tapi karena ada perasaan baik maka semua menjadi baik baik saja, tapi terkadang sebaliknya ketika cemas maka yang terjadi apa yang kita cemaskan. itu artinya perasaan kita akan direspon alam semesta. jadi sebenarnya perasaan kita ini adalah sumber dari apa yang sesungguhnya terjadi dalam alam realita.Terkadang kita merasakan apa yang terjadi dalam kehidupan kita adalah sikap dari sisi lain sebuah realita.

           Perilaku cahaya yang dualism manusia mirip seperti cahaya, saat perasaan kita tidak baik maka otomatis badan kita tidak nyaman berarti zona material kita terganggu. Sebetulnya, tubuh yang tidak nyaman adalah kode bahwa kita tidak nyaman, dan ada yang kita harus ubah. Ini tentang doa kita dalam mencermati perasaan kita ketika berdoa, akhirnya ini semua adalah feedback dari apa yang kita rasa. Maka kita harus memperbaiki perasaan kita saat kita melakukannya.

Kita adalah mikro kosmos kecil dialam semesta yang tak terbatas,maka jadilah tuan atas pikiran kita kita sepenuhnya mengontrol apa yang ada pada pikiran kita, lakukan perlahan yang massive manivestaikan diri dengan diri ideal diri kita, fokus pada hal hal yang anda inginkan lalu kemudian lepaskan kea lam semesta, biarkan alam semesta yang melakukan tugasnya.

Maka pilihlah 1 hal yang ingin di wujudkan,latihlah dalam 28 hari Masukilah ruang bioskop di ruang bioskop pikiran kita, visualisasikan ruangan bioskop kita, mulai dari membuka pintu masuk dan melihat ruang atau layar bioskop dan kursi kursinya kemudian bergairahlah dengan impian kita. proyeksikan kedalam layar bioskop, lihatlah diri kita di sana secara detailnya, lihat situasinya didalam layar tersebut, menyatu dalaam gambar dui layar bioskop diri kita. Kita menjadi bagian dari gambar tersebut, menulis afirmasi disaat bangun dipagi hari tentang layar bioskop yang kita tonton.



ARTIKEL POPULER

ARTIKEL BERSPONSOR

FOLLOW SITE