Search This Blog

Sunday, June 28, 2020

COVID 19 DAN TANTANGAN DUNIA PENDIDIKAN BERBASIS KARAKTER

COVID 19 DAN TANTANGAN DUNIA PENDIDIKAN BERBASIS KARAKTER
Oleh: Khairil Anwar, S. S. M. Pd

Pada dasarnya pendidikan adalah sebuah proses interaksi atau komunikasi yang terjalin antara seorang pendidik dengan peserta didik (UU Sisdiknas 2013) dalam interaksi itu terciptalah sebuah nuansa baru yang penulis bahasakan sebagai pencerahan (enlightenment), pencerahan yang meliputi kehadiran seorang guru sebagai panutan dan icon dari hadirnya ilmu pengetahuan pada sosok seorang murid dan  lingkungan menjadi wadah ilmu pengetahuan yang saling terhubung dalam sebuah proses pembelajar dengan lingkungan, sehingga terjadi perubahan perilaku kearah yang lebih baik (Mulyasa, 2006 : 225) dalam sebuah interaksi akan memunculkan banyak faktor yang mempengaruhi baik faktor internal yang datang dari dalam diri individu maupun faktor ekternal yang datang dari lingkungan.

           Hadirnya sekolah dan seorang pendidik dalam dunia pendidikan adalah subtansi dari proses pencerdasan yang berangkat dari seorang pendidik sebagai motor penggerak untuk memastikan berjalan nya sebuah sistem pendidikan, ketika seorang guru melakukan interaksi yang baik dengan seorang murid maka seorang murid akan mudah memahami tujuan dari inti pokok sebuah pembelajaran, ini yang yang terjadi berabad abad lama nya dimana teradisi dari pendidikan ini adalah bagaimana hubungan emosional akan terjalin yang bukan hanya interaksi ilmu pengetahuan semata yang disampaikan oleh seorang pendidik, tapi juga akan tercipta sebuah hubungan emosional yang kuat antara seorang pendidik dan seorang murid.


           Kita lihat begitu banyak seorang murid yang gagal ketika mereka terjun ke masyarakat mereka tak mampu mengaplikasikan ilmu yang mereka proleh secara utuh dikarenakan oleh banyak faktor seperti yang dikatakan oleh jhonson bahwa secara umum siswa gagal dalam belajar tidak menunjukkan sikap setia,tidak suka pada tantangan, mereka cepat menyerah ketika menghadapi tantangan dan kesulitan serta memiliki persepsi control internal yang rendah terhadap keberhasilan dan kegagalan dalam belajar. (schunk, 2012:522), ini indikasi bahwa dalam masalah belajar terdapat pola yang tercipta difikiran mereka bahwa setiap tugas di sekolah adalah sesuatu yang membosankan karena faktor internal yang muncul bahwa apa yang selama ini mereka pelajari pada akhirnya akan mendapat bantuan dari guru ketika ujian nasional dilaksanakan, maka hal semacam ini akan membentuk sebuah karakter yang berbeda yang berdampak panjang ketika kelak mereka menjalani kehidupan yang lebih komplek yaitu dunia kerja yang mengharuskan mereka untuk professional dalam menjawab tantangan zaman mereka pada akhirnya lupa akan ilmu yang mereka pelajari karena faktor faktor tersebut.

           Subtansi dari pendidikan adalah suatu proses pembelajaran yang bukan hanya mengarahkan para peserta didik  pada ranah kognitif semata tapi juga harus memperhatikan wilayah afektif dan psikomotorik karena dari wilayah kecerdasan tersebut masing masing mempunyai grafik peningkatan kecerdasan untuk mencapai kesuksesan peserta didik dalam mengaplikasikan ilmunya, dari sini kita berangkat pada sebuah pemahaman dan kesepakatan bersama bahwa seorang guru harus terus mampu mengupgride dirinya, selalu haus dengan perkembanagan menghadirkan kesadaran untuk terus berinovasi dengan zaman khususnya di era Industri 4,0 ini, oleh karena itu seorang guru tak boleh merasa puas dengan keadaan meskipun secara perangkat dan protokol pembelajaran telah dipenuhi dan dijalankan.

              Seorang pendidik yang hebat adalah mereka yang selalu berinovasi dan berfikir diluar konsep (out of the box), seorang pendidik yang mampu bersinergi dengan perkembangan zaman karena pendidikan harus melibatkan “tri pusat pendidikan yaitu, keluarga, sekolah dan masyarakat,maka sudah seharusnya seorang pendidik bergegas meninggalkan pola lama yang cenderung statis menuju kearah yang dinamis tanpa harus merasa tabu dengan perkembangan yang terjadi disekitar kita, dalam undang undang nomor 14 tahun 2005 dinyatakan bahwa guru adalah pendidik professional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi. dengan tupoksi dan tanggung jawab guru tersebut maka seorang guru harus mampu memformulasikan sebuah khazanah keilmuan yang diajarkan yang bukan hanya berbicara pada tataran materi yang diajarkan dan sekedar menjalankan sebuah kewajiban tapi lebih kepada bagaimana menciptakan sebuah nilai lebih dari proses pembelajaran ,seorang pendidik harus memiliki pola dalam mendombrak system yang dinilai kaku dengan merubah konsep yang selama ini difahami oleh pendidik pada umumnya, munif chatib dalam buku gurunya manusia mengatakan bahwa untuk menjadi seorang pendidik makaa yang harus di miliki adalah sebuah paradigm berfikir tentang pengetahuan secara koheren saling terhubung,kemudian kompetensi seorang guru yang harus di upgrade setiap saat kaitannya dengan cara atau pendekatan dalam proses pengajaran dan kemudian komitmen yang merupakan daya untuk mempertahankan paradigm dan cara yang sudah disepakati dan dianggap benar.

           Hadirnya seorang guru dalam proses belajar mengajar akan menjadi poin penting dalam menciptakan pendididkan yang unggul, yang bermakna pada proses transefer emosional intelligent dari seorang guru kepada murid yang tidak semata transfer ilmu pengetahuan atau knowledge intelligent, ini penting karena dari sekian banyak orang orang sukses bukan karena mereka memiliki pringkat akademik yang tinggi disekolah, tapi lebih  kepada bagaimana membangun karakter sebagai sebuah nilai, bersahabat dengan rasa takut mereka dan kemudian menakar rasa rasa takut itu merubahnya dengan energy kemenangan.

           Self empowerment atau kekuatan diri  untuk ikut berkompetisi dalam dunia kerja atau dunia global, murid murid yang sukses adalah mereka yang mampu ditempa secara emosional oleh seorang guru yang tidak semata mata mengajar demi menggurkan sebuah kewajiban lalu kemudian dapat upah dari karir mengajarnya tapi lebih jauh dari itu seorang guru adalah mereka yang mampu tampil menjadi motivator dalam kehidupan seorang murid, tentu dengan warna yang berbeda dari sisi seorang guru, ini tentang karakter, ini tentang mewujudkan cita cita bersama Indonesia hebat, mewujudkan sinergisitas antara ilmu pengetahuan dan moral atau karakter seorang murid, dalam hal ini penulis teringat ketika imam malik ra ingin belajar kepada seorang ulama besar yang dikagumi oleh seorang imam malik lalu kemudian dia pamit kepada ibunya lalu kemudian sang ibu mengizinkan anak nya belajar kepada sang ulama tersebut lalu sang ibu memakaikan sorban yang indah kepada imam malik karena salah satu dari adab ilmu itu juga adalah memakaikan mahkota simbol bahwa menuntut ilmu pengetahuan itu adalah simbol kehormatan seseorang, lalu kemudian ibunyapun berkata” wahai anakku belajarlah engkau tentang akhlaknya sebelum ilmunya, inilah adab dari sebuah ilmu pengetahuan itu  yang harus tertanam menjadi karakter bagi setiap pendidik atau guru. ada kata kata dari imam syafi’i yang sangat popular tentang seorang pendidik, pesan beliau adalah” jadilah permulaan perbaikan untuk anak didikmu dengan memperbaiki dirimu sendiri karena mata mereka akan terikat dengan kedua matamu, yang baik menurut mereka adalah apa yang engkau anggap baik sementara yang buruk menurut mereka adalah apa yang engkau tinggalkan.

           Namun dengan mewabahnya pandemi atau corona virus deaseas yang dikenal dengan Covid 19 sebagai wabah penyakit yang menakutkan seluruh warga dunia tak terkecuali negara kita tercinta indonesia dimana sudah tercatat bahwa puluhan ribu manusia telah meregang nyawa oleh virus yang tak terlihat ini yang menjadi sasarannya adalah kita semua karena penyebaran virus ini melalui aktivitas orang ke orang artinya virus ini akan menyebar dalam hitungan detik dari orang yang terindikasi positif terkena virus lalu dengan cepat menulari orang lain dalam skala besar apabila orang tersebut berada dalam aktifitas dan dalam kerumunan, penyebaran itu akan terus berlanjut selama masih ada aktivitas orang dalam jarak yang sangat dekat, disamping itu virus inipun mampu hidup lebih lama dibenda mati atau hal hal yang bisa disentuk baik itu pasilitas umum yang rentan disentuh oleh orang lain.

          Indikasi inilah yang menjadi himbauan pemerintah agar sedini mungkin menghentikan aktivitas diluar rumah, kegiatan kegiatan yang berpotensi menularkan virus ini harus dimatikan dengan cara menutup akses atau mata rantai dari penyebaran virus covid 19 ini, maka secara bertahap pemerintah baik pemerintah pusat maupun daerah sepakat untuk mengambil langkah tegas demi memutus mata rantai penularan virus ini, seperti itupun yang dilakukan oleh negara lain di seluruh penjuru dunia, meskipun Negara kita masih terlalu jauh dari kata sempurna seperti negara negara maju lainnya.

          Negara kita punya sisi yang tidak kalah hebatnya dibanding dengan negara lain yaitu sikap kekeluargaan, sikap kekeluargaan menjadi penting dalam menghadapi pandemik saat ini, kenapa harus sikap kekeluargaan dan seberapa penting peran kekeluargaan dalam menghadapi pandemik ini, dalam hal ini penulis mencoba memberikan penjelasan bahwa negara kita sungguh berbeda dengan Negara lain, kita masih menjunjung tinggi kepedulian kita, itu terwujud di kehidupan masyarakat kita bukankah lebih dari 70% Indonesia terdiri dari rural society atau masyarakat pedesaan, dari sana sifat kekeluargaan itu muncul, dalam era atau masa pandemic saat ini, miris kita melihat jika di media sosial kita lihat cara negara negara barat dalam memperlakukan orang yang meninggal akibat virus ini, ini ntentang etika dan norma yang berbeda antara norma timur dan barat dalam memposisikan seseorang yang suspect dan ini tentang sebuah karakter yang melampaui kecanggihan sebuah alat dalam menanggulangi wabah ada suatu negara yang menempatkan para korban covid sebagai sesuatu pada kondisi tak berdaya sehingga tentu mayat korban dari covid ini pun tak lagi menjadi sesuatu yang harus di hormati dan hal hal atau tradisi penghormatan terakhir, di Indonesia hal hal semacam itu mendapatkan perhatian karena budaya timur khususnya Indonesia mempunyai norma atau tradisi tersendiri terhadap hak hak orang orang yang sudah meninggal.

           Indonesia mempunyai sistem kekeluargaan yang tinggi dalam diri individu masyarakat Indonesia yang masih patuh kepada himbauan pemerintah, tak bisa dibayangkan jika masyarakat Indonesia hidup dinegara seperti jepang yang sebelum menglockdown mereka menjamin setiap rakyat nya dan memastikan kebutuhan pokoknya jauh cukup terpenuhi sehingga tindakan lockdownpun dilakukan, masyarakat jepang ataupun negara lain jika hidup di Indonesia mungkin akan bereaksi dengan kondisi yang ada, karena ditengah kondisi yang mungkin jauh dibawah kemajuan Negara Negara maju lain nya namun Indonesia dengan tradisi ketimurannya yang khas berhasil mengkondisikan situasi pada ranah kearifan lokalnya terlepas dari kuat dan canggihnya peralatan medis yang tersedia. ini tentang kepatuhan warga Negara, dan berfikir out of the box tentu versi warga Indonesia.

         Sebagai akhir dari tulisan ini adalah covid 19 telah merubah wajah pendidikan kita menjadi muram, semoga ini akan segera berakhir mengingat kondisi pendidikan kita yang tampak berada ambang krisis, artinya pendidikan mempunyai peran penting dalam roda kehidupan kita, dengan hadirnya covid 19 semua disulap menjadi wajah baru, semua proses pembelajaran dilakukan dirumah dengan menggunakan sistem daring karena itu mungkin satu satunya cara saat ini yang paling efektif sesuai tagar “ work at home, learning at home” sehingga pemerintah melalui menteri pendidikan menyulap semua pembelajaran menjadi serba virtual, tentu jalan ini bukanlah yang terbaik tapi dimasa pandemik ini mungkin inilah solusinya, karena pendidikan kita dan karakter ketimuran bangsa kita tidak lah bisa disamakan sepenuhnya dengan karakter pendidikan barat yang mungkin media virtual seperti ini tampak sudah lumrah bagi mereka karena mereka lebih cepat berproses dan cenderung lebih kecil daripada permasalahan bangsa kita yang lebih komplek sebagai negara kepulauan terbesar didunia inilah yang yang mendasari kita untuk tetap survive dan ikut serta dalam memutuskan mata rantai dari penyebaran covid 19 ini, biarlah saat ini kita berada dalam kondisi dimana mengutip kata pak presiden jokowi bahwa langkah yag diambil pemerintah untuk membatasi pergerakan ruang publik tentu bukan solusi yang terbaik tapi dimasa pandemik seperti ini, inilah langkah yang diambil artinya langkah yang buruk dari yang terburuk, kita sebagai warga negara harus bisa dan menerima keadaan ini, kita harus belajar dalam suasana yang lain, seorang guru dan murid tak bisa lagi saling bertatap muka padahal cara seperti itu masih lebih efektif sebagai salah satu adab dari menuntut ilmu tentu dalam tradisi timur, berabad abad lamanya tradisi seperti itu yang terjadi dimana seorang guru mengajarkan murid nya secara langsung yang kita kenal dalam pendidikan klasik dengan bahasa sorogan atau bandongan dalam tradisi itu bukan hanya ilmu pengetahuan semata yang dipelajari tapi yang lebih penting dari itu lahirnya sebuah adab dalam menuntut ilmu, saat ini kita harus merelakan semuanya terhenti sejenak sembari merenungi bahwa covid 19 telah memberikan banyak pelajaran penting dalam kehidupan kita tentunya dalam dunia pendidikan dan proses belajar mengajar, dengan belajar dirumah, kita berharap adab ilmu pengetahuan itu akan tersampaikan dan dipelajari oleh murid dengan hadirnya orang tua yang mendampingi mereka sebagai sosok penting dari tercipta pendidikan berkualitas, jika ilmu pengetahuan, adab atau akhlak bisa berbarengan tertanam dalam diri seorang peserta didik maka kitapun akan melihat bahwa bangsa kita akan menjadi bangsa yang hebat dengan generasi yang hebat.

No comments:

Post a Comment

ARTIKEL POPULER

ARTIKEL BERSPONSOR

FOLLOW SITE