Penyebab Pentingnya Penelitian Hadis

Penyebab Pentingnya Penelitian Hadis
by : Zaharudin



Assalamu Alaikum Wr. Wb.

Segala Fuji bagi Allah, Tuhan semesta alam, Tuhan yang telah menurunkan ajaran agama kepada umat manusia agar senantiasa hidup damai dan sejahtera. Dengan suatu agama, maka suatu kaum akan terhindar dari kehancuran dan kekacauan. Karena seluruh agama mengajarkan di muka bumi ini tidak ada yang menyeru kepada kehancuran, kecuali ia mengikuti ajaran sesat dari kegelapan bangsa jin dan iblis. Seperti halnya ajaran agama islam yang di dalamnya penuh rahmat dan hidayah sebagaimana yang tercantum dalam sumber utama ajaran agama islam yaitu al-Qur'an dan hadis.

LATAR BELAKANG

       Dalam judul di atas di sebutkan bahwa penyebab pentingnya penelitian hadis. Dapat dipahami bahwa judul tersebut meminta sebuah alasan mengenai sesuatu yang menyebabkan sehingga hadis Nabi Saw penting untuk di teliti atau di kaji. Terdapat indikasi bahwa ada sesuatu yang melatar belakangi sehingga suatu hadis harus diteliti.

GAMBARAN UMUM

       Terakait judul tersebut, setidaknya dalam pembahasan ini memberikan ulasan singkat mengenai makna pengertian atau hal yang terkait dengan judul untuk mengantar masuk kepada pembahasan utama.

        Dalam judul 'penyebab pentingnya penelitian hadis', dapat digaris bawahi 2 kata kunci pokok yang dapat diberikan ulasan atau gambaran umum. Yakni "Penelitian" berasal dari kata teliti yang dalam kamus besar bahasa Indonesia memiliki arti yang sama dengan "cermat atau seksama", dan jika mendapat imbuhan seperti dalam kata "menellit" maka ia menjadi sebuah kata karja yang menunjukkan suatu kegiatan dalam memeriksa atau menyelidiki dengan cermat, sementara jika ia berubah ke kata "penelitian" maka ia berati pemeriksaan dan penyelidikan yang teliti atau kegiatan pengumpulan, pengolahan, analisis dan penyajian suatu data yang dilakukan secara sistematis dalam memecahkan suatu permasalahan, dan seterusnya dalam KBBI.

        Selain kata penelitian, kaitannya dengan peristilahan dalam pembelajaran hadis atau ilmu hadis, maka ia memiliki makna yang mirip dengan isitlah "kritik". Di mana para ahli hadis memberikannya istilah dengan kata "Naqd"yang artinya adalah kritik itu sendiri. Dalam terminologi ahli hadis, kritik hadis itu adalah usaha menemukan kesalahan dan kekeliruan dalam rangka mencari suatu kebenaran.

        Selain kata penelitian, dalam judul di atas juga terdapat kata kunci pokok yakni hadis. Dalam pertemuan sebelumnya sudah dibahas beberapa pengertian umum terkait dengan hadis. Seperti hadis adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Saw baik berupa perkataan, perbuatan, pengakuan dan penetapan, dan yang berkaitan dengan sifat khalqiyah dan khuluqiyah dari Nabi Saw. Yang kemudian diriwayatkan, disampaikan dari orang ke orang, dari masa ke masa, atau dari kaum ke kaum. Di mana dalam proses penyampaian itu tidak menuntut kemungkinan adanya miskomunikasi antara orang yang menyampaikan dan orang yang menerima. Dengan pertimbangan bahawa manusia itu tidak pernah lupuh dari kesalahan dan kehilapan. Unsur atau komponen pokok dalam sebuah hadis terdri dari Rawi atau Sanad (orang yang menyampaikan), matan ( isi dari yang disampaikan). Semuanya ini perlu dilakukan penelitian dan memiliki disiplin ilmu yang sistematis dalam melakukannya.

ARTIKEL TERKAIT : Pemahaman Umum Tentang Hadis

          Demikian gambaran umum di atas mengenai makan dari judul pembahasan ini, yang garis pokoknya adalah hal-hal yang menyebabkan segala hal berasal dari Nabi Saw penting untuk dilakukan kegiatan penelitian terkait adanya kesalahan atau tidak, dalam proses periwayatan dan penyampaian hadis dari seseorang ke orang lain. Sementara jika ada kesalahan maka bukankah informasi yang beredar saat ini menjadi diragukan bila tidak adanya penelitian yang menguatkan atau membatalkan status kehujjahan sebuah hadis, status kualitas referensif sebuah hadis, apakah layak dijadikan patokan hukum dan ajaran agama atau tidak ?


PENTINGNYA PENELITIAN HADIS

1. Karena Hadis merupakan salah satu sumber utama ajaran agama Islam

          Ada banyak dalil yang menyeru untuk berpegang teguh kepada hadis, apakah dalil itu berasal ari al-Qur'an begitu juga dalam hadis itu sendiri yang menyampaikan bawah taatilah Allah (dapat diambil dari al-Qur'an) dan taatilah Rasul-Nya (dari Hadis), serta dalil-dalil lain terkait dengan mengikuti pedoman dari al-Qur'an dan hadis Nabi Saw.

        Ini berarti bahwa jika penelitian terhadap hadis diabaikan maka apalagi yang dapat menguatkan sebuah informasi bila tanpa disertai dengan penelitian yang diakui. Apakah anda rela bila sumber ajaran agama Islam berasal dari dalil yang diragukan, khususnya hadis. Maka oleh sebab itulah penelitian terhadap hadis penting untuk dilakukan demi menguatkan informasi yang akurat atas dalil hadis yang dipakai dalam menjalankan syariat Islam.

2. Hadis tidak seluruhnya tertulis Semasa hidup Nabi Saw.

          Sebagai bukit bahwa pelarangan Nabi dalam menulis hadis darinya semasa turunnya ayat al-Qur'an karena beliau mengkhawatrikan tercampurnya antara hadis dan ayat al-Qur'an yang ditulis oleh para sahabat Nabi. Sehingga pada saat itulah, hadis secara hapalan dan penyampaian secara lisan lebih berkembang dibandingkan dengan penulisan, catatan atau pembukuan. Maka dari sinilah alasan mengapa hadis tidak semuanya tertulis pada masa Nabi.

         Secara logika, tulisan lebih kuat daripada hapalan. Karena kemampuan memori hapalan tiap orang itu berbeda. Sehingga berpotensi dikahwatirkannya terjadi kekeliruan dalam proses pelafalan redaksi hadis dalam proses periwayatan ( penyampaian dan penerimaan hadis). Apalagi yang nantinya dalam proses penelitian hadis terdapat bukit kekeliruan dalam periwayatan seperti seorang rawi terbukti sering lupa dalam menghafalkan hadis, maka ini suatu hal yang fatal dan mesti harus dikaji lebih lanjut.

3. Telah terjadinya Proses pemalsuan terhadap hadis Nabi Saw.

        Masih sangat sulit dibuktikan bila semasa hidup Nabi sudah terjadi pemalsuan hadis, meski beberapa ulama mengatakan bahwa sudah ada indikasi pemalsuan pada masa Rasulullah. Namun, dalam catatan sejarah bahwa tumbuh berkembangnya pemalsuan terhadap hadis terjadi pada masa Ali bin Abi Thalib. Di mana faktor terbesar dalam pemalsuan hadis pada masa itu adalah terkait menguatnya suasana politik dalam kepemimpinan. Sehingga banyak yang membuat berita palsu yang bukan merupakan hadis Nabi Saw demi mendapat dukungan dan memenangkan perjuangan atas sebuah kelompok.

        Karena maraknya pemalsuan hadis, sangat dikhawatirkan bahwa hadis palsu yang telah dibuat telah menyebar dari seseorang ke orang lain sehingga menghasilkan sebuah berita atau ajaran kebohongan dan tentunya sangat berbahaya bagi keselamatan umat. Olehnya itu, perlu dikaji demi mendapatkan kepastian atas akurasi hadis yang dijadikan sebagai dalil pokok ajaran agama.

4. Penghimpunan dan periwayatan hadis telah terjadi dalam kurung waktu yang lama

Penghimpunan hadis yang secara resmi dan massal terjadi pada masa khalifah Umar Bin Abdul Azis yang wafat pada tahun 750 M / 101 H yang berdasarkan atas catatan sejarah. Dikatakan resmi karena kebijakan dari negara dan massal karena perintah dari kepada Negara kepada Gubernur dan ulama ahli hadis pada masa itu. Pertengahan abad kedua (2 H )Hijriyah muncul karya himpunan hadis di kota besar seperti Mekkah, Madinah dan Basrah, serta puncaknya penghimpunan terjadi pada pertengahan abad ketiga (3 H) Hijriyah. Oleh karena itualah, jarak waktu penghimpunan hadis dan wafatnya Nabi Saw terjadi sangat lama. Sehingga dengan penelitian terhadap hadislah dapat mengklarifikasi hadis yang tidak dapat dipertanggung jawabkan kehujjahannya yang telah terhimpun dalam kitab-kitab hadis.

5. Kitab hadis memiliki metode dan pendekatan yang bervariasi dalam penghimpunannya

           Tentunya sudah terlihat sangat benyak buku-buku hadis yang beredar sampai saat ini, jika dicermati dengan seksama, masing-masng ulama nampaknya memiliki karakter dan perbedaan antata satu sama lain dalam penyusunan kitab hadis yang mereka buat. Baik dalam sistematika, topik, penyusunan dan krtieria lainnya yang terkait dengan penyusunan kitab hadis.

6. Periwayatan hadis secara makna lebih banyak terjadi dibandingkan secara lafads

        Pada masa Nabi sendiri membolehkan meriwayatkan hadis secara makna yang kemungkinan hal ini dipertimbangkan bahwa semasa Nabi, konsultasi terhadap hal-hal yang meragukan para sahabat dapat disampaikan langsung kepada Nabi dan dimintai penjelasan secara langsung. Akan tetapi, sepeninggal Rasulullah, terjadi pertentangan pada para ulama mengenai kebolehan meriwayatan hadis secara makna. Dimana harus mengikuti syarat yang cukup ketat seperti pengetahuan yang fasih akan bahasa Arab dan hadis yang bersangkutan bukan dalam masalah ibadah seperti bacaan dalam shalat.

URGENSI PENTINGNYA PENELITIAN

- Menghindari kekeliruan dalam periwayatan hadis
- Mengklarifikasi kemungkinan adanya kesalahan pada rawi
- Menghadapi pemalsuan terhadap hadis
- Menjelaskan kemungkinan terjadinya kontradiksi antara para periwayat hadis
- Dalam matan, kekhawatrian terjadinya pembuangan terhadap redaksi hadis
- tidak banyak pembicaraan mengenai kritik matan
- Dll.

           Saya kira cukup sekian yang dapat disampaikan pada kesempatan yang penuh mubarakah ini.

Sekian.
Wassalam


Comments

Popular posts from this blog

Corona Covid 19 Ajang Renungan Introspeksi Giat beribadah

DETIK TERAKHIR RAMADHAN - Sudahkah Anda ?

Cara Mengontrol Niat Positif dan Mindset sebagai Motivasi Ibadah

COVID 19 DAN TANTANGAN DUNIA PENDIDIKAN BERBASIS KARAKTER

Puasa Syawal Berurutan atau Tidak ?

Ketika Allah Jatuh Cinta - Zuhud

Keistimewaan Bulan Ramadhan

Power of Word - RAHASIA DIBALIK UCAPAN

HADIS TENTANG KESEHATAN DAN WAKTU LUANG

Hadis tentang Larangan Menyiksa Hewan